Connect with us

Ipro – Management

Ipro – Management

[Cerpen] Pelukan Pertama dan Terakhirmu

Artikel

[Cerpen] Pelukan Pertama dan Terakhirmu

Cinta itu seperti batuk yang tidak bisa ditahan. Pertemuanku dengannya berawal dari Roti isi daging yang ada di kantin. Gadis kecil itu bernama Verli, dia adalah anak kelas XII IPA A yang terkenal berisik dan suka semaunya.

Momen tahun pertamaku di sekolah ini pun berakhir layaknya siswa yang lain, biasa saja. Di tahun keduakulah aku terpaut dengan gadis berisik itu. Saat itu aku ingin sekali makan Roti daging dan hanya tersisa satu bungkus di kantin. Aku sempat memegang roti itu sebelum direbut oleh Verli.

Tentu saja aku geram dan sejak saat itu hari-hariku diwarnai pertengkaran dengannya.

Suatu hari di bulan Juni, saat sekolah mengadakanfestival. Aku mengunjungi kelas Verli yang mengadakan stand untuk makanan Italia dan saat itu di menjadi pelayan.

“Hey anak ayam, pesananku kok belum datang,” tanyaku.

“Sabar yah kakak, kan kakak baru 5 menit yang lalu memesan,” jawabnya dengan senyum terpaksa menahan amarahnya.

“ohhh, cepet dong, tamu adalah raja loh,” candaku.

Dia hanya menghela nafas, tapi aku bisa melihat senyumnya saat dia hendak memalingkan wajahnya. Entah kenapa aku justru merasa bahagia saat bertengkar dengannya.

Suatu hari tiba-tiba hujan datang mengguyur, dan Verli terlihat bersama Bian si ketua OSIS. Entah apa yang mereka perbincangkan, tapi menyaksikan itu aku merasa hatiku sakit.

Aku pun sadar bahwa aku sudah jatuh hati dengan Verli.


Mama tiba-tiba mengetuk pintu kamarku, malam itu ia khawatir kenapa aku tidak turun ke bawah untuk menyantap makan malam.

“Tumben kamu gak makan, ada masalah yah,” tanya mama khawatir.

“ngga ada apa-apa kok ma,” jawabku memalingkan badan.

“Pasti ada apa-apa, coba cerita sama mama,” katanya sambil membangunkan dan menegakkan badanku yang terlihat lesu.

“Ma, aku tadi lihat orang yang aku suka berdua dengan ketos di sekolah, apa mereka pacaran yah, Aldi bingung ma,” curhatku.

“Kamu laki-laki kan, kalau kamu suka yah bilang dong sama dia. Cinta itu seperti batuk yang tidak bisa ditahan. Kalau kamu tahan, kamu akan sesak napas. Kasih tau dia kalau aldi suka sama gadis itu, dan tanya apa dia pacaran dengan ketos itu. Anak mama gak boleh pecundang, kalau ditolak jangan menyerah, karena perasaan orang itu bisa saja berubah,” kata mama sambil mengusap kepalaku.

“Oke ayo sekarang makan,” lanjutnya.

Hanya beberapa kalimat, tapi itu membuatku percaya diri untuk menyatakan perasaan ke Verli.


Hari itu adalah hari upacara di bulan Desember, saat itu aku dan verli dihukum membersihkan taman sekolah karena terlambat. Kesempatan itu pun tak kulewatkan.

“Verli, kamu pacaran yah sama Bian,” tanyaku langsung.

“Ke… kenapa tanya itu,” ia balik bertanya.

“Emang salah kalau aku penasaran dengan hubungan orang yang kusuka dengan ketos itu,” kataku dengan lantang.

Ia terkejut saat itu dan hanya mengatakan untuk tidak suka padanya dan pergi meninggalkan taman sekolah. Aku pun merasa ditolak.

Sebulan berlalu aku sudah jarang melihat Verli. Aku pun berpikir cintaku sudah berakhir, tapi aku ingat kata mama, Cinta itu seperti batuk yang tidak bisa ditahan. Aku pun memberanikan diri menemui Bian.

“Ketos, pacar kamu kok gak nongol,” kataku.

Itu adalah momen terkhirku dengan Verli. Sampai saat ini, aku tidak pernah lupa sedikit pun dengan cinta pertama ku itu. Saat ini pun aku masih merindukannya, pelukan pertama dan terakhir yang ia berikan padaku masih terlantun setiap malam di pikiranku. (*)

Baca Juga di Artikel

Populer

Facebook

Artikel

To Top